Kebebasan Pers di Indonesia yang Semu

Oleh: Denhas Mubarok T.A

Konteks saat ini Pers sebagai instrument pemerintahan atau lembaga public yang seakan di agungkan eksistensinya, ditakuti bahkan di segani oleh beberapa intansi pemerintah atau khalayak. Melihat rangkaian sejarah terlihat jelas bahwa proses peralihan system Pers dari jaman pasca kemerdekaan mulai masa orde lama sampai orde baru sangat rentan dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan yang tentunya harus sesuai dengan ideology yang berkuasa.
Yang akhirnya mau tidak mau Pancasila sebagai system nilai bangsa yang mengayomi setiap pola kehidupan berbangsa dan bernegara secara totalitas. Pers yang diberi predikat Pancasika yang secara eksplisit dimaksud sebagai penegasan dan arahan normative agar Pers dalam melakukan fungsi harus sesuai yang bersumber Pancasila dan terjauh dari penyimpangan secara normative. Kembali lagi kepada fungsinya bahwa media sebagai alat untuk mentransformasikan system nilai atau pola-pola kepercayaan yang harus dipahami dan diyakini sekaligus dilaksanakan dan dipertahankan kelestariannya.
Terkait dengan kebebasan Pers yang saat ini penulis rasakan belum terlalu yakin dan bahkan sangat terlalu menembus batas terhadap privasi individu sehingga tidak ada satupun yang bisa mendeskripsikan batasan itu, itu artinya kebebaan Pers terlalu semu bagi Indonesia sebagai bangsa berkembang. Artinya Pers saat ini sangat kehilangan arah yang tidak kita sadari bahwa Pers sudah kebablasan suasananya mirip pada periode setelah jatuhnya Orde Lama sekitar Tahun 1966. Ketika itu, Pers seakan tidak mengenal batasan apa pun, sehingga mereka menganggap bebas memberitakan apa saja yang dinilainya fits to print (moto harian The New York Times) . Di mana-mana pergantian rezim membawa ekses pada kehidupan pers. Tatkala rezim Orde Baru jatuh pada bulan Mei 1998, kita menyaksikan fenomena serupa. Tapi, di dunia ini tidak ada rezim yang suka melihat persnya arogan, hantam kiri dan hantam kanan, termasuk Negara Indonesia.
Mengingat wartawan yang menulis ngawur atau dengan sikap reckless disregard, bukan saja harus dijewer, tetapi juga dihukum keras. Kenapa tidak? Apakah wartawan itu termasuk “kelas khusus” (meminjam istilah Aristotles) di dalam masyarakat yang pantas menikmati segudang privilesi, termasuk tak tersentuhkan hukum?
Dalam konteks ini Indonesia sebagai bagian Negara ketiga yang tentunya manghapus atau tidaknya hokum yang mengkriminalkan Pers. Sebab dalam beberapa kasus perang antara rakyat melawan pemerintah yang korup dan Pers tentunya selalu berpihak kepada pejabat, politisi atau pengusaha.
Namun penulis berpendapat bahwa yang pantas untuk membendung arogansi Pers tentunya konsep social responsibility walaupun menurut River konsep inib sulit untuk diterapkan, karena berada dalam ambang semu antara otoriter dan konsep liberal. Inti ajaran teori ini: kebebasan dan tanggung jawab sosial pers harus berjalan seimbang. Dalam kebebasan itu melekat tanggung jawab. Ini berarti setiap berita atau tulisan yang dilansir penerbitan pers harus bisa dipertanggungjawabkan baik secara jurnalistik, etika maupun hukum. Ironisnya banyak wartawan kita yang beranggapan kalau ada pihak yang merasa dirugikan oleh suatu pemberitaan, silakan pergunakan hak jawab Anda. Dan jika pers sudah memuat bantahan atau koreksian dari Anda, masalah pun dianggap selesai. Jika Anda masih juga tidak puas, silakan lapor ke Dewan Pers. Begitu gampangkah delik pers diselesaikan? Siapa pun tahu bahwa pemuatan bantahan sama sekali tidak mengurangi rasa malu dan kerusakan martabat yang dialami korban (dalam kasus penghinaan atau pencemaran nama baik).
Sehingga aturan UU Pers (No40/1999) juga telah menganut politik hokum yang tidak mengkriminalkan Pers dalam pekerjaan jurnalistik. Kesalahan karya jurnalistik bisa diselesaikan melalui hak jawab.
Intinya dalam negara berdasarkan hukum tindakan Pers yang menyimpang dan sewenang-wenang tidak boleh membahayakan sendi-sendi Demokrasi, artinya tidak ada lex specialist.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: