ISLAM BUKAN AGAMA PATRIARKI

Oleh: Denhas  Mubaroq T.A

 

Masyarakat Dunia seringkali menganggap Islam sebagai sumber pelanggeng ketidakadilan antara pola relasi laki-laki dan perempuan. Islam dianggap melegitimasi laki-laki untuk selalu mendominasi peran dalam kehidupan masyarakat. Hal itu tidak terlepas dari tafsiran-tafsiran yang keliru terhadap teks-teks Qur’an dan Hadits.

Banyak penafsiran terhadap beberapa teks Qur’an atau hadis memang terkesan memarjinalkan hak-hak perempuan, dan itu adalah penafsiran yang keliru.  Asghar Al-Enginer, pemikir dan teolog Muslim mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada saat itu tidak terlepas dari setting sosial. Secara historis penafsiran harus disesuaikan dengan konteks dan kondisi  pada saat itu, sebab secara esensial Qur’an adalah respon terhadap konteks yang ada. (Ashgar, ali, enginer. Hak-hak perempuan dalam Islam).

Redaksi teks yang sering disalahtafsirkan adalah Surah An-nisa (4:34); “Arrijaalu qawwamunna alannisa…” (laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan). Beberapa mufassir menginterpretasikan ayat ini dengan interpretasi yang berbeda. At’tabunni mengartikan “Sebagai tanggung jawab untuk mendidik anak dan membimbing istri.” Kemudian Ibnu Abbas mengartikan Qawwamunna sebagai “pihak yang yang memiliki kekuasaan atau wewenang bagi perempuan.” Sedangkan Al-Janaqsya’I menekankan laki-laki harus ber-amar ma’ruf nahy munkar terhadap perempuan.

Dengan demikian jelaslah bahwa dari berbagai interpretasi tersebut kita sepakat jika penafsiran yang tidak sejalan dengan kondisi syari’at pada saat itu harus ditinjau kembali. Alasannya karena pada hakikatnya Qur’an mendukung misi kesetaraan jender dengan subtansi yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarki, ketimpangan dan ketidakadilan (An-nahl. 16:90). Dan Allah SWT lebih mengutamakan kebaikan dan mencegah ketidakadilan.

Selain itu, Asma Barlas menjelaskan bahwa Al-Qur’an pada hakikatnya tidak bias jender, bahkan menolak keras budaya patriarki. Asma Barlas memandang eksistensi perempuan dalam Islam dengan menggunakan metode historis dan hermeneutik. Secara historis dijelaskan bahwa pada saat itu, khususnya kondisi di Arab sangat kental dengan politik tekstual dan seksual sehingga menghasilkan tafsiran-tafsiran patriarki. Sedangkan hermeneutik dipakai untuk menemukan epistimologi egalitarianisme dan anti patriarkalisme dalam Al-qur’an. (Asma Barlas. Cara Qur’an membebaskan perempuan).

Jadi pada intinya Allah tidak pernah membeda-bedakan manusia, baik dari jenis, bahasa, suku dan lain-lain terkecuali ketaqwaan. Pada hakikatnya, laki-laki dan perempuan kedua-duanya memiliki kemampun yang sama sebagai agen moral untuk sama-sama melaksanakan tugas kemanusian. Islam harus dibaca dan dicerna sesuai dengan kondisi dan situasi. Saya percaya Islam agama yang sangat egaliter dan menolak segala bentuk budaya patriarki yang mendiskreditkan hak-hak perempuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: