POLA HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA

Oleh: Denhas Mubaraq T.A

(ketua studia PERSIS Jkt)

Acap kali kita sering terjebak dengan memahami paham-paham baru, padahal kenapa kita tidak pernah “open maind” dengan paham itu, kalau memang melahirkan kemaslahatan di Indonesia. Bagi umat islam, sekularisasi dan sekularisme seringkali dipahami sebagai ancaman terhadap eksistensi Agama dalam kehidupan publik. Ancaman yang dimaksud mungkin dengan tersingkirnya peran Agama dalam masalah sosial, politik, ekonomi, dll. Padahaal dalam Islam pun telah diterangkan bagaimana manusia berhubungan dengan manusia, dan tuhannya (hablumminallah, hablumminanas).

bagi orang konservatif menganggap sekulerisme adalah produk barat dan itu ‘haram’. begitupun MUI yang menjustivikasi bahwa sekularisme berbahaya, tanpa argumenmtasi yang tepat tentunya. Mungkin MUI itu kurang cerdas dalam memahami istilah atau penafsiran, jangan-jangan ada intervensi dari kaum kolot yang berpikir fundamental..? justru “SPILIS” yang didengungkan oleh Ulil, Cak Nur, Dawam dan Gusdur hendak “mengangkat islam dengan membebaskannya dari berbagai kungkungan kemunduran dan kejumudan agar Islam lebih fleksibel dan mampu menjawab tantangan masa kini. Sedangkan bagi Nurchalis majid, sekulerisasi adalah konsekuensi logis dari konsep tauhid dimana tidak ada sesuatu apapun yang sakral dan absolut kecuali Allah.

Kemudian terkait aliran kontemporer seperti Ahmadiyah, jamaah musaddeq, mereka itu tidak terbukti memusuhi negara atau merusak bahkan mengejekpun tidak. Sebaliknya justru umat islam sendiri yang melakuakan kekerasan bahkan penyiksaan. Dan itu akan mengancam karakter bangsa yang mendasar, yaitu “Behineka Tunggal Ika”. Dalam konteks negara – bangsa, memang sekulerisme ingin membuat tembok pemisah tetapi dalam kenyataannya hal ini tidak bisa diterapkan dengan singkron dan konsisten.

Seperti Agama yang diberi ruang dengan masuk ke daerah publk, contohnya perda syari’at yang diterapkan di Tanggerang dan kota lainnya. Itu merupakan eksploitasi secara tidak langsung sehingga mempersempit ruang gerak publik. Dan kita jangan terjebak dengan argumentasi mereka yang memakai Hadis bahkan Al-qur’an. Padahal Agama Islam adalah Agama Rahmatan Lil’alamin, yang tidak pernah memaksakan umatnya, artinya jangan pernah melarang orang berekspresi. Dan itu semua merupakan nilai-nilai Demokrasi dengan membuka peluang membebaskan demi kemajemukan dan melahirkan toleransi dan prinsip hak-hak kebebasan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: