TELAAH KEMBALI KONSEP LIBERALISME

Oleh: Denhas Mubaroq T.A

(aktivis HMI komfakda Ciputat)

Kenapa konsep liberalisme sering ditakuti oleh agama-agama, dikarenakan kesalahpahaman untuk memahami istilah liberal itu sendiri. Liberalisme memiliki beberapa definisi diantaranya satu, libertinisme yang beranggapan membebaskan segala sesuatu sikap ataupun tindakan yang tidak merugikan orang lain. Kedua, liberalisme ekonomi yang memiliki semboyan “ lisez pairre” yang artinya bereskan pasar sendiri, yaitu bebas berdagang dan mencari pekerjaan. Dulu liberalisme ekonomi ditolak oleh Paus Leo XIII karena tidak menjamin keadilan sosial, yang sekarang muncul lagi dengan nama “neoliberalisme”. Ketiga, liberalisme politik yaitu gerakan yang melahirkan hukum demokratis, dimana negara harus mentaati hukum dan memiliki UU yang menjamin hak-hak asasi manusia.

Di Indonesia sendiri bagi teolog atau pemikiran yang liberal memiliki ciri khas tersendiri yang bersikap secara religius dengan penuh keterbukaan dan penuh toleran. Orang liberal adalah orang masih belajar untuk memperjelas kembali sabda Ilahi yang ditradisikan oleh manusia sehingga selalu sempit pemikiran, salah paham, kurang lengkap dan sebagainya. Dan menurut penulis justru intelektual agamawan (liberal) lah yang setia untuk menegakan syari;at Tuhan yang selama ini selalu terintervensi oleh kepentingan-kepentingsn manusia itu snediri.

Yang menarik pada saat ini justru orang agamawan (kiyai) yang konservatif, tradisional dan kolotlah yang selalu menganggap dirinya paling benar, sehingga tidak ada yang berani membantah, seolah-olah pendapat kiyai adalah pendapat tuhan yang dijamin kebenarannya.

Jadi secara devinitif liberalisme sangat kompleks, namun berangkat dari sumbangsih pemikiran liberal, mulai dari Thomas Hobbes sampai Jhon Rawl, memiliki satu benang merah yakni hak dan kebebasan individu sebagai nilai dasar pengaturan kehidupan.

Sehingga jelas terdapat tiga pondasi yang membangun pemikiran liberal yaitu: otonomi individu (baca Immanuel Kant), kemudian kemerdekaan (liberty) dan equality atau kesatuan.

Ketiga pondasi itu pada hakikatnya ada dalam Islam, karena Allah maha demokratis, dia tidak pernah memaksakan kehendaknya justru membebaskan dengan berbagai pilihan dan ia pun tidak membeda-bedakan terkecuali amal perbuatan manusia itu sendiri. Maka jelas kebebasan adalah fitrah bagi manusia, sehingga jangan pernah berhenti merealisasikan dalam sejarah.

Kalau dalam peradaban barat, sejarah maju menurut masyarakat bebas sedangkan didunia muslim sejarah justru sering menjauhi kebebasan, dan itu sangat ironis sekali. Kemudian kita lihat dalam bidang politik, ada dua relitas antara hubungan negara dan individu, yaitu primer yakni kebebasan individu yang otonom, kemudian realitas sekunder nya yaitu masyarakat dan negara. Negara dibentuk sebagai hasil dari perjanjian atau kontrak sosisal demi menjamin kesejahtraan umum warganya (John Locke 1704). Sedangkan semboyan yang terkenal dari kaum libeal mengenai negara yaitu A good government is the government wich govern least . Adapun tugas pokok negara yaitu sering dijuluki sebagai penjaga malam (night wach state) atau negara terbatas (minimal state), kenapa, karena negara harus membatasi diri pada perlindungan dan pengamanan, kemudian yang terpenting adalah memberikan kesempatan sebesar-besarnya paa kebebasan terhadap warga negara.

Terkait masalah liberalisme memang sangat kompleks sehingga penafsiran-penafsiran yang memang sangat sulit. Menurut Maurice Ctanson, ada empat negara manifestasi yang dilahirkan liberalisme diantaanya Inggris, Francis, Jerman dan A.S. namun justru keunikannya yang berbeda. Seperti di Inggris liberalisme identik dengan individualistik yang berhulu pada Jhon Lock. Kemudian di Francis, liberalisme pada posisi humanitarianisme yang ada ditengah antara faham royalis yang konserfativ , sosial dan revolusiaoner sampai radikal kiri yang diilhami oleh JJ Rosseou. Dan di Jerman liberalisme berkembang dengan dasar nasionalisme yang dipengaruhi pendasarkan metafisik Hegelian. Adapun di A.S liberalisme berkembang mulai tiga tahap yaitu: pertama, dibawah pengaruh inggris masa liberalisnme kanan. Kedua, liberalisme tengah yang masih pendekatan pada JJ. Roseou (demokratis). Dan ketiga liberalisme kiri yang menekankan keadilan sosial yang mengarah pada sosialisme marxis.

Mungkin terlalu jauh penulis untuk mengupas geneologi liberalisme Barat dan Islam, maka penulis berharap agar kita memahami konteks liberalisme yang memang tida akan terlepas dari faktor history, sosial, dan ideologi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: