DIMANA ETIKA ISLAM

Oleh: Denhas Mubaroq T.A
 (Mahasiswa Dakwah dan komunikasi UIN Jkt)
Lagi-lagi tindak kekerasan mewarnai umat Islam, sekelompok yang mengaku seorang muslim merusak fasilitas ibadah saudaranya sendiri. Sungguh sangat ironis, terdapat beberapa hadis menyatakan bahwa “sesama muslim adalah saudara” hadist tersebut tidak berlaku di kota Kuningan Jawa Barat. Jemaah Ahmadiyah Kuningan terampas hak-nya sebagaimana seorang hamba yang ingin beribadah kepada Allah namun gagnguan dan ancaman menghadangnya. Beberapa orang menyerang Masjid dan merusak semua fasilitas bahkan melempar dan membakar ayat-ayat allah.
Padahal segala tidakan anarkisnya akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak, dan tidak seorangpun yang bisa menanggung kesalahan yang dilakukan orang lain, meskipun Nabi bisa memintakan maaf kesalahan yang diperbuat umatnya (Syafaat), namun Nabi tidak bisa memikul dosa mereka karena bagaimanapun juga Allah sendiri yang akan memutuskan, apakah dia akan diampuni ataukah sebaliknya.
Pada hakikatnya eksistensi etika Islam tidak jauh beda dengan moralitas Kristiani, namun apa yang dituntut etika Islam lebih dari pada apa yang bisa diamati dalam prilaku organisasi muslim atau program-program gerakan Islam yang mengajak kita untuk mempercayainya adalah benar-benar dipraktekan. Tentunya tujuan etika Islam untuk memperbaiki diri, moralitas Islam merupakan basis kehidupan sesuai perintah Allah. Salah satu bentuk dari moralitas Islam yang sangat diagungkan adalah sikap saling menghargai, ramah, toleransi sehingga terhindar dari arogansi kerakusan yang akan menimbulkan peperangan atau konflik. Morailtas Islam tidak terbatas pada norma-norma tingkah laku yang mengimplikasikan pada level prilaku atau ketundukan pada persepsi agama, dan termanifestasi kedalam rentetan perintah dan larangan saja namun ada nilai lebih (fadhilah) yaitu memiliki kepekaan dan kepedulian social. (Habib Baulares, London . 1990)
Selanjutnya kita selalu terjebak dengan fatwa-fatwa yang berserakan dan tidak berargumen dengan valid, bahkan selalu dijadikan rujukan umat Islam Indonesia yang secara pemahaman masih fundamental. Menurut para ulama mereka murtad dan telah menghancurkan nama baik Islam, toh padahal yang menghancurkan nama Islam itu sendiri mereka yang melakukan tindakan anarkis dengan merusak tanpa ada musyawarah.
Dengan demikian musyawarah tentunya sangat penting dan harus ditekankan, Al-Qur’an berulang-ulang memerintahkan kaum muslim untuk bermusyawarah , baik dalam forum terbuka atau tertutup. Al-Qur’an tidak menetapkan metode yang cepat dan keras. Beberapa pemikir Muslim seperti Muhammad Hamidullah, menyatakan meskipun “Al-qur’an menetapkan umat muslim sebagai agama yang benar-benar egaliter dan terbuka yang berlandaskan niat baik dan kerja sama” namun salah satu konsekwensi Negara hukum dan demokratis adalah terciptanya musyawarah itu sendiri.
Apakah mungkin umat islam khususnya lapisan santri yang lebih memiliki kesadaran dan komitmen ideologis terhadap sumber inspirasi dari para gurunya atau Ustadz yang mendoktrin secara rutin, sehingga apapun kebijakan dari sang Ustadz mereka anggap itu benar secara mutlak, sungguh sikap demkian itu yang patut kita sesali. Hal ini mungkin yang menyebabkan kaum muda Islam terbelakang. Untuk itu mari kita renovasi dan introspeksi diri kita sebagai mana ayat Al-qur’an yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.s. 13:11) dimana suatu perubahan dimulai oleh suatu bangsa, jika mereka ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik dan lebih maju yakni dalam pengertian ‘apa yang ada pada diri mereka’ dapat di interpretasikan sebagai “perubahan pemikiran mereka sendiri” artinya jika kita ingin lebih maju maka kita harus siap merubah pola pikir yang stagnan atau mandeg.
Kemudian saya menghimbau kepada saudara-saudara kita ditanah air untuk lebih akurat dan matang dalam melakukan segala kebijakan, dan bisa menerima perbedaan untuk menyuarakan gagasan-gagasan serta pemikiran-pemikiran intelektual keagamaan secara kritis, terbuka, dan dialogis. Bagaimanapun juga cita-cita kita sama, yakni menyepakati terciptanya bangsa yang berperadaban tinggi dan modern. Dan yang perlu kita perhatikan adalah bahwa kebenaran itu lahir sepanjang otoritas, wacana, asumsi segala yang mungkin menyumbangkan kontribusi dalam menyuarakan realitas. kebenaran agama yang didasarkan wahyu verbal merupakan kesementaraan, temporalis dan sangat terkait dengan lokalitas. (Justisia. 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: