Demokrasi dan Kekosongan

Oleh: Denhas Mubarok T.A

Praktik demokrasi di Indonesia belum berjalan dengan semestinya, dalam tataran realitas bernegara belum menemukan idealnya (das sollen). Walaupun diskursus mengenai demokrasi telah jauh berkembang terukir dalam sejarah. Untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang demokratis di butuhkan system yang kuat dan mandiri, demikian pula dengan proses pesta demokrasi yang saat ini sedang berjalan.

Patut dikemukakan disini bahwa transisi demokrasi secara realitas menyebabkan gagalnya sistem pemerintahan, diantaranya krisis kepemimpinan. Tidak sedikit pejabat pemerintah menyalahgunakan fungsi kekuasaannya, korupsi, nepotisme bahkan melakukan amoral. Begitupun para caleg dengan ego yang tinggi sibuk meraih kursi di parlemen, kisruhnya tentang DPT (daftar pemilih tetap), bahkan yang membuat skeptis adalah peran serta artis yang mewabah ke ranah politik, potensi mereka sangat diragukan dalam menjalankan roda pemerintahan, mengeluarkan kebijkan. Namun bagaimanapun juga siapapun dia, sebagai entitas yang diharapkan mampu mengimbangi peranan (state) dalam pengelolaan politik, ekonomi, dan sosisal.

Berangkat dari realitas itu maka sangat relevan dengan apa yang di asumsikan oleh Gunawan Muhammad (GM) bahwa demokrasi mengandung disilusi dalam dirinya.
Berpijak pada anggapan dasar bahwa dalam transisi menuju sesuatu yang lain, yang tidak pasti bisa jadi penegakan atau pemulihan dalam berdemokrasi tentunya ketidakpastian akan hadir di sepanjang proses transisi. Agar bisa sampai pada penilaian yang seimbang mengenai kualitas demokrasi maka dibutuhkannya peran atau dukungan dari cendekiawan. Cendekiawan adalah salah satu elemen terpenting dalam civil society sebab dalam proses pertumbuhannya dan pemberdayaan (empowerment) untuk meningkatkan demokrasi yang berkualitas serta terwujudnya pemerintahan yang mandiri. Sebagai landasannya terwujudnya sebuah wilayah public yang bebas (a free public sphere) sebagaimana yang diperjuangkan salah satu filusuf wanita Hannah Arendt, yang seakan mengangkat harkat martabat manusia demi terwujudnya masyarakat demokratis.

Untuk membangun perubahan-perubahan structural yang intensif dibutuhkan krangka yang baru untuk menciptakan dan mempertahankan stabilitas politik. Namun untuk menuju proses pendewasaan politik (political maturity) akan sulit terjadi jika belum adanya kesadaran untuk mengembalikan politik sebagai perjuangan (la politique). Sadar atau tidak praktik demokrasi di Indonesia saat ini telah kehilangan arah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: