Propaganda Internasional

Oleh: Denhas Mubarok T.A
(Mahasiswa Komunikasi Politik UIN Jakarata)

Berbicara propaganda tentunya tidak terlepas dari ideologi dan kepentingan, bermunculan spekulasi politik global akhir-akhir ini memberikan ruang penting bagi propaganda. Fukuyama membeberkan keruntuhan komunis, begitupun S. P Huntington berbicara tentang percaturan geopolitik internasional yang menyebabkan adanya benturan peradaban pada level mikro. Itu semua adalah polarisasi propaganda internasional yang semakin meluas dan berpengaruh bagi tatanan sosial.
Berangkat dari konteks tersebut timbul pertanyaan, bagaimana propaganda berkembang menjadi makna yang peyorataif, kemudian apa yang pengertian propaganda beserta komponennya, dan apa saja tekhnik propaganda beserta medumnya.
Mulanya Propaganda sebagai alat untuk berdakwah dalam agama Khatolik Roma, kemudian sejalan dengan tingkat perkembangan manusia propaganda dipakai dalam bidang politik, pembangunan, komersialisasi dan pendidikan. Kesamaannya tentu dari metode dan karaktieristik yang memiliki unsur komunikator, pesan, media serta efeknya hanya saja memiliki penekanan tertentu. Sangat berdampak besar terhadap kondisi social masyarakat baik itu positive (opini publik) ataupun negative menimbulkan konflik horizontal atau vertikal.
Teori yang digunakan Active reception, dimana mengembangkan pola gagasan yang sekiranya sesuai dengan keinginan masyarakat dan semangat untuk mensiasati kehidupannya.
Dengan jalan membuka lebar-lebar peluang masyarakat dalam berpartisipasi untuk berkuasa sesuai keinginannya baik dalam hal social, politik, ekomoni dan sebagainya. Tentunya bersaing ketat dengan para competitor lainnya.
Seperti yang sudah di singgung diatas dikotomi timur dan barat serta perseturuan di Negara-negara berkembang saat ini tidak lagi melalui perang, namun lebih menggunakan senjata yang efektif yakni agresi propaganda melalui media, baik cetak atupun elektronik. Era media bisa berkenaan dengan posmodernisme sebab media adalah dinamika sentral dengan ciri pendefinisi dari posmodernisme. Media dapat menjadi alat mencerahkan bahkan menyesatkan kita dengan beberapa variatif dan tidak pernah berakhir. Seperti Mc Luhan mengatakan media telah melenyapkan ruang dan waktu sehingga pengaruh media yang sentral dalam memahami kekusaan dan dominasi diterima secara luas.
Kata propaganda sering mengalami makna peyoratif dan ini seakan sudah terkonstruk dalam pikiran kita, padahal pada hakikatnya propaganda mempunyai arti dasar mengembangkan. Namun karena propaganda sebuah “alat” yang bebas nilai sehingga alat ini bisa dipakai sesuai dengan keinginan kita.

A. Pengertian Propaganda
Propaganda memiliki arti luas sehingga kita bebas dapat menentukan penilian dirinya terhadap suatu gejala social, sehingga kenapa propaganda juga digunkan secara berbeda dalam kurun tertentu yangternyata disebabkan kepentingan pula.
Propaganda berasal dari bahasa latin propagare yang artinya cara tukang kebun menyamaikan tunas suatu tanaman kesebuah lahan untuk memproduksi tanaman baru yang akan tumbuh sendiri, kalau bahasa kita tunas.
Pada walnya propaganda adalam medium untuk mengambangkan agama Khatolik Roma dengan membentuk badan The Sacra Congretario de Propaganda Fide (mejlis suci dlm propaganda agama). Sejalan dengan tingkat perkembangan manusia, propaganda tidak hanya digunakan dalam bidang agama saja melainkan jua dalam bidang pembangunan, politik, lomersial, pendidikan dan sebagainya.
Harold D. Laswell dalam tulisannya (1937), mengatakan bahwa propaganda adalah tekhnik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dengan memanipulasikan representasinya, selain itu dalam bukunya Propaganda Technique Of In The World War (1927) menyebutkan propaganda adalah semata – mata kontro; opini yang dilakukan melalui symbol – symbol yangmempunyai arti atau menyampaikan pendapat yang kongkrit dan akurat, melalui bentuk rumor, laporan, dalam komunikasi social.
Selain itu Qualter juga berpendapat bahwa propaganda adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja oleh beberapa individu atau kelompok untuk membentuk, mengawasi atau mengubah sikap kelompok lain dengan menggunakan bmedia dengan tujuan bahwa pada setiap situasi yang tersedia, reaksi dari mereka yang dipengaruhi akan seperti yang diinginkan sesuai si propagandis.
Barangkat dari definisi tersebut maka propaganda memiliki komponen yang perlu dicermati diantaranya :
1. dalam propaganda selalu ada pihak dengan sengaja untuk menyebarkan pesan, disebut juga propagandis atau yang melakukan baik secara invidu maupun kelompok.
2. propaganda dilakukan secara kontinyu, dan poerlu dibedakan antara propaganbda dan kampanye yang membedakan tentunya waktu dan kepentingan.
3. ada proses penyampaian ide , gagasan, kepercayaan bahkan doktrin.
4. mempunyai tujuan mengubah pendapat, sikap dan prilaku individu atau kelompk lain, denan demikian secara sinis pdopaganda selalu menghalalkan secgala cara ala Maciavelian.
5. proipaganda adalah usah sadar yang secar sistematis, procedural dan perencanaan matang, seperti Laswell dengan Who, says what, in wich channel, to whom and with what effect.
6. sebaai sebuah program yang memiliki tujuan kongkrit, maka propaganda akan mencapai sasarannya secara efektif jika menggunakan media yang cepat.
Sebagai bagian dari sebuah prose komunikasi, tenmtunya propaganda sangat tepat di dalam mempengruhi sikap dan prilaku orang lain, namun sampai saat ini mengalami perkembangan arti seperti reduksi yang dikaburkan, sehingga identik dengan keburukan, terror, pembohongan, memanipulasi, hal yang menyeramkan.
Intinya propaganda merupakan kegiatan untuk memenangkan tujuan yang akan dicapai dengan tidak mengindahkan etika, moral, aturan, nilai norma dan lain – lain. Komunis memberikan pengertian lain tentang propaganda ini. Dalam koleksi tulisan Lenin yang terbit tahun 1929 berjudul Agitation und Propaganda. Dalam buku yang ditujukan untuk basis argumentasi dan praktek komunis atas hal itu, Lenin membedakan antara (1) propaganda yang didefinisikan sebagai argumentasi akal pikiran dari filsafat, sejarah dan ilmu pengetahuan untuk mempengaruhi orang terdidik dan yang cukup cerdas dan (2) agitasi yang diartikan penggunaan sloganslogan emosional, setengah kebenaran, ungkapan-ungkapan untuk mempengaruhi orang yang tidak terdidik, setengah terdidik dan kuran cerdas.

B. Tehnik – tehnik Propaganda
Untuk melakukan proses itu, sejumlah teknik propaganda dikerahkan agar tepat sasaran. Holsti mencatat sejumlah teknik untuk menyampaikan pesan.
1. Name-Calling.
Propagandis menyentuh simbol-simbol emosional kepada seseorang atau sebuah
negara. Targetnya diharapkan merespon sesuai yang dikehendaki propagandis tanpa perlu memeriksa lagi atau mencari bukti-bukti. Dengan demikian propagandis melancarkan semacam stereotipe kepada sasarannya.Dalam hal ini muncul istilah komunis menjadi “merah”, pemimpin buruh menjadi “bos serikat
buruh” dan pemeritah konstitusional menjadi klik pemerintah.
2. Glittering Generality
Ini mirip dengan teknik nomor pertama namun digunakan untuk melukiskan
sebuah gagasan atau kebijakan bukannya individu. Istilah “dunia bebas” (freeworld) adalah generalitas favorit propagandis Barat. Sedangkan “solidaritas sosialis” dipakai dunia komunis untuk menggambarkan hubungan kompleks diantara negara dan partai komunis. Sementara itu “jiwa Afrika” (the Africansoul) diharapkan mencipta citra kekuatan dan persatuan.
3. Transfer
Porpagandis berusaha mengidentifikasikan sebuah gagasan, pribadi, negara atau kebijakan dengan hal lain untuk membuat sasaran propaganda setuju atau tidak setuju. Salah satu caranya adalah membangkitkan kebencian sikap rakyat beragama terhadap komunis yang menyamakan dengan ateisme. Komunis biasanya menyamakan kapitalis dengan dekadensi (kemerosotan) dan anti semit dengan harapan menciptakan dukungan publik karena menyamakan yahudi dengan komunis.
4. Plain Folks
Propagandis sadar bahwa masalah mereka terhambat jika mereka tampak di mata audiensnya sebagai “orang asing”. Oleh sebab itu mereka berusaha mengidentifikasikan sedekat mungkin dengan nilai dan gaya hidup sasaran propaganda dengan menggunakan slang, aksen dan idiom lokal.
5. Testimonial
Di sini propagandis menggunakan pribadi atau lembaga yang dapat dipercaya
untuk mendukung atau mengkritik sebuah gagasan atau kesatuan politik. Variasi dari propaganda ini adalah “mengkaitkan dengan yang memiliki wibawa/kekuasaan” dimana sasaran propaganda akan mempercayai sesuatu karena sesuatu yang memiliki “otoritas” mengatakan hal itu.
6. Selection
Hampir semua propagandis bahkan ketika menggunakan teknik lain seperti diulas
sebelumnya tergantung pada seleksi fakta, meskipun jarang sangat spesifik dalam isi faktanya. Ketika presentasi rinci diberikan, propagandis menggunakan hanya fakta-fakta yang tersedia untuk “membuktikan” sasaran yang telah ditentukannya.
7. Bandwagon
Teknik ini memainkan perasaan audiens untuk sesuai dengan massa.Teknik ini
mirip testimonial namun massalah yang jadi cara untuk menarik perhatian. Misalnya propagandis komunis sering menggunakan ungkapakn “seluruh dunia tahu bahwa…”Atau “semua rakyat yang cinta damai mengakui bahwa…, Atau”semua masyarakat progresif menuntut bahwa…”,. Teknik inimenempatkan sasaran sebagai minoritas sehingga bila mereka menolak harus bergabung dengan mayoritas. Atau jika sasarannya simpati maka aka menguatkan sikap mereka dengan mendemontrasikan bahwa mereka sudah ada di pihak yang “benar” beserta orang lainnya.
8. Frustration Scapegoat
Salah satu cara mudah untuk menciptakan kebencian atau menyalurkan frustrasi
adalah menciptakan kambing hitam. Rejim-rejim revolusioner yang berhadapan dengan ketidapastian ekonomi dan sosial internal serta frustrasi rakyat sering menciptakan “hantu” internal atau eksternal untuk menyalurkan penderitaan rakyat. Salah satu contoh populer adalah mitos yang diciptakan Hitler bahwa masalah dalam negeri dan luar negeri Jerman disebabkan yahudi yang disamakan
dengan komunis.
9. Fear
Kesadaran dapat bangkit dan sikap berubah manakala audiens dibuat sadar akan
hambatan atau ancaman terdekat terhadap hidup dan kesejahteraan mereka. Pada masa krisis internasional, pemerintah aktiv dalam memobilisasi rakyatnya mengekspresikan solidaritas ketika mereka berhadapan dengan musuhnya. Ancaman nuklir digunakan untuk mendorong pengawasan dan perlucutan persenjataan. Sedangkan kekhawatiran kerusakan ekologi membangkitkan kesadaran akan isu-isu lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: