Review Sosiologi Komunikasi Masyarakat Oleh: Denhas Mubarok T .A

Setelah mengikuti perkuliahan tampaknya jelas terabuka bagi mata penulis dalam memahami dan menganalisis aspek-aspek sosiologis dalam proses komuniksi massa. Begitu banyak teori – teori yang menjelaskan hubungan komunikasi massa dengan masyarakat termasuk media beserta efeknya.
Sebelum kearah sana sedikit kita singgung terkait landasan kajian teori dalam keilmuan. secara karakteristik menjadi tiga macam yaitu scientific bentuknya empiris, humanistic bentuknya interpretative, dan social science yakni ilmu-ilmu social. Scientific ilmu bersifat objektif menurutnya dunia adalah objek yang dapat di observasi sehingga mendapatkan penjelasan dengan seakurat mungkin dan berupaya memperoleh consensus dengan mereduksi perbedaan. Sedangkan humanistic, ilmu bersifat subjektif tergantung pada kreatifitas individual sehingga mengetahui respon subjektif individu dengan berusaha mencari interpretasi alternative. Terakhir social science memasukan elemen science dan humaniora agar dapat mengobservasi dan menginterpretasikan pola prilaku manusia kemudian membangun consensus.
Berangkat dari situ kemudian masuk kerangka berfikir, kita pasti mengenal konsep, banyak berpendapat bahwa konsep adalah sekumpulan ide-ide yang tergeneralisasikan. Sedangkan teori merupakan sekumpulan prinsip yang mengorganisasikan dunia empiris secara sistematis. Teori sangat diperlukan untuk menjelaskan sesuatu dalam istilah “cause effect dan achieving a goal” sesuatu yang melahirkan penyebab dan tindakan sadar yang didesain untuk mendapatkan hal yang baru di masa depan. Adapun fungsinya jelas yakni untuk menjelaskan dengan mengamati secara focus dan menyimpulkan secara generatif. Selanjutnya perspektif, atau disebut juga paradigma yang melukiskan cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Prspektif dapat digolongkan menjadi perspektif objektif (saintifik, empiris, positivistic, rasionalistik dan lain-lain) dan subjektif (fenomenologis, naturalistic, interpretative, humanistic dan lain- lain).
Aliran-aliran teori komunikasi terdiri dari structural fungsional, aliran ini mempercayai bahwa struktur social itu nyata dan berfungsi dengan cara di observasi, kemudian tidak mempercayai subjektivitas. Kemudian aliran kognitif yang focus pada “thinking” individu dan berbicara hubungan stimulus dan respon. Selanjutnya aliran interaksionis yang memandang manusia sebagai proses interaksi, dimana yang membentuk struktur social melalui interaksi dan bahasa dan simbol digunakan sebagai pencipta struktur tersebut sehingga diproduksi dengan demikian makna bersifat subjektif.
Selain itu ada juga aliran interpretif yang dapat menemukan makna dalam text dengan menekankan pada subjekltifitas dan focus pada pengalaman individu sehingga memahami masyarakat dalam pengalamannya. Dan terakhir aliran kritis memahami bahwa pengetahuan sebagai power. Dan focus pada isu ketidaksamaan yang berperhatian pada konflik kepentingan di masyarakat dan bagaimana cara komunikasi didominasi oleh suatu kelompok atas yang lainnya,
Belajar sesuatu tentunya tidak terlepas dari sejarahnya begitupun ilmu ini terbangun berawal dari beberapa fase, diantaranya: Pertama fase Rethorika (abad ke-5 SM) yang di pelopori oleh beberapa ilmuan di antaranya Aristoteles, Georgias, Protagoras, dan lainnya yang menyatakan bahwa retorika adalah seni berbicara yang mengandung keindahan di depan umum secara rasional. Kemudian fase berikutnya adalah Romawi, pengemmbangnya oleh Marcus Tulius Cisero (106-43 SM) yang dalam bukunya Oratore bertujuan untuk menyadarkan public tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan rakyat, perundangan dan keputusan. Selanjutnya fase publisistik yang ditandai oleh penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg (1400-1464) serta kemunculan surat kabar pertama. Lalu fase Communication science berangkat dari penelitian lanjutan Wilbur Schramm dan Rogers beserta konco – konconya yang menyimpulkan bahwa komunikasi massa hanya satu diantara beberapa dimensi lain dalam proses komunikasi. Namun Carl Hovland (1960) memunculakan “sience of communication” yang mempunyai definisi sebagai suatu upaya sistematis utuk merumuskan dengan cara yang setepat-tepatnya atas pentransmisian informasi serta pembentukan opini dan sikap.
Berbicara tentang lingkup komunikasi tentunya tidak terlepas dengan sifat, bidang, tujuan, tekhnik, dan sebagainya. Berawal dari sifat, komunikasi bisa berbentuk verbal, non verbal, face to face bahkan komunikasi lewat media (mediated communication). Saat ini tentunya orang (middle class) banyak menceburkan diri dalam lautan teknologi yang kemudian ingin dapat dikatakan manusia modern, walaupun belum sesuai kebutuhannya, seperti fenomena facebook. Artinya mediated communication memiliki daya tarik yang luar biasa.
Kemudian Bidang komunikasi sangat banyak diantaranya; komunikasi social, politik, organisasi, intercultural, tradisional, bahkan komunikasi internasional. Dari beberapa bidang tersebut tentunya ada spesialisasi yang kita kaji secara fokus sesuai potensi kita. Seperti halnya penulis sangat tertarik dengan komunikasi politik, setidaknya dapat menganalisis isu- isu, atau iklan bahkan bentuk kampanye capres baik cawapres. Adapun tujuannya bisa merubah sikap, perubahan social, behavior dan lain sebagainya. Dan perubahan itu pasti dapat dirasakan secara langsung atau tidak langsung dalam berinteraksi.
Sedangkan fungsi dari komunikasi secara garis besar dapat berfungsi sebagai bentuk informasi, mengandung pendidikan, bahkan hiburan dan tentunya sangat berpengaruh. Adapun tekhnik komuikasi terdiri dari instructive, persuasive, invormatif. Tergantung tujuan dan kepentingannya apa, semisal iklan politik yang saat ini sering intens untuk mengajak atau menginformasikan dengan bahasa persuasive bahwa dialah yang pantas untuk menduduki RI satu. Walaupun gagasnnya kadang tidak rasional.
Terakhir adalah metode, metode komunikasi berbentuk banyak ada journalism, public relation, advertaising, broadcast, propaganda dan lainnya. Yang jelas memiliki unsur publicity. Menarik tentunya jika berbicara propaganda, seolah – olah maknanya memiliki nilai peyoratif dalam benak kita padahal propagandapun mempunyai unsure positif.
Berbicara model komunikasi bisa di sederhanakan menjadi tiga (typolopogi) yaitu sebagai aksi (model linear), sebagai interaksi (model interaksional) dan sebagai transaksi. Penting untuk dicerna bahwa terdapat tujuh tradisi dalam komunikasi yaitu: pertaama tardisi sosio psylkologis yang berbicara bahwa komunikasi sebagai pengaruh interpersonal. Kedua tradisi retorika, komunikasi dalam berbicara agar menarik public. Ketiga tradisi sosio cultural, komunikasi sebagai proses dalam pengembangan realitas social, ke empat tradisi kritik, sebagai cerminan wacana ketidakadilan. Kelima tradisi fenomenology , komunikasi sebagai dialog pengalaman pribadi dengan orang lain. Ke enam semiotic, dimana komunikasi sebagai proses berbagi arti melalui isyarat. Dan terakhir tradisi sibernet artinya komunikasi sebagai pemprosesan informasi.
Setelah penulis membelah dasarnya maka kemudian saatnya kita oprasi yang urgennya. Banyak literature mendefinisikannya namun agar lebih terarh penulis menyepakati bahw komunikasi massa sebagai bentuk menyiarkan informasi kepada khalayak yang heterogen secara serempak melalui media. Adapun karakteristik komunikasi massa bersifat umum, heterogen, melembaga, yang menimbulkan kesepakatan yang hubungan komunikan dan komunikator bersipat non pribadi, dan terdapat standarisasi proses produksi, distribusi, dan konsumsi isi media.
Terkait masalah bentuk komunikasi massa terdapat tiga pariabel; yang pertama bentuk pemerintah yakni melakukan control dan perintah. Dan yang kedua bentuk pelayanan bentuk ini sudah umum yang mengikat kepentingan bersama dalam pasar. Ke tiga bentuk asosiasi yang mengedepankan ikatan normative yang telah disepakati bersama antara kedekatan public tertentu terhadp sumber media tertentu. Kemudian madia massa berfungsi sebagai kontrol sosial, pendidikan, agen perubahan, serta hiburan. Walaupun saat ini fungsinya jauh sesuai harapan. Sehingga apa yang dibutuhkan sebagai rujukan informasi seolah-olah ikut serta dalam kejadian tertentu sehingga berpeluang memberikan pendapat dan mengkonfirmasi atas keputusan tertentu secara realitas terdominasi oleh hiburan. Kenapa, sebab masih banyak masyarakat kita (lower class) yang mengakkes media tidak mengedepankan subtansi.
Ada beberapa model dalam proses komunikasi massa diantaranya; model transmisi, intinya adalah proses mentransformasikan pesan dalam waktu tertentu sesuai tujuan, seperti berita. Kemudian model ekspresi, intinya menyamakan pandangan sehingga terbuka partisipasi dalam kurun waktu tertentu, dan tidak menekankan penyampaian informasi melainkan penampilan sehingga kegiatan itu terpuaskan bersama., seperti kontes dangdut, Indonesian idol dan sebagainya. Terakhir model perhatian, intinya adalah sesuai dengan tujuan utama media yakni menarik perhatian khalayak dan tentunya harus sesuai pandangan umum khalayak.
Selain itu juga terdapat teori- teori terkait model komunikasi massa seperti teori yang taka asing lagi di telinga penulis yaitu model jarim hypodermic, menurut teori ini media massa memiliki dampak yang kuat terarah secara langsung masuk pada benak khalayak. Kemudian one step flow model, yang menggambarkan bahwa media massa berkomunikasi langsung tanpa berlalunya suatu pesan pada orang lain, tapi semua pesan tidak merata dan tidak menimbulkan efek yang sama. Kemudian two step flow model yang melihat massa sebagai perorangan yang berinteraksi sehingga menekankan proses dari opinion leader kepada masyarakat yang pasif terakhir adalah Multi step flow model, dasarnya pada fungsi penyebaran secara berurutan yang terjadi pada kenyataan situasi dengan tujuan untuk mempertegas info itu sehingga banyak saluran..
Cepat, nyata, penting, serta menarik adalah karakteristik isi media. Selain berkarakter Mediapun memiliki nilai (value) diantanya: proxsimity yaitu info yang memiliki kedekatan tempat tinggal pembaca. Human interest yakni adanya nilai kemanusiaan. Timelines yaitu memiliki unsur factual. Dan terakhir consequences info tersebut melahirkan dampak bagi khalayak.
Media tidak terlepas dari indusrti sehingga muncul yang namanya karekteristik industri media seperti yang kita kenal competitive environment sering disebut market struktur atupun persaingan dalam perusahaan. Ada juga social expectations yaitu adanya korelasi yang saling terkait antara masyarkat dengan industri media seperti semakin programnya berkwalitas maka semakin beragam acara dan semakin disenangi. Dan terakhir adalah costumer requirtments, adanya harapan dari konsumen tentang produk media yang sesuai dan berkwalitas programnya.
Adapun hal yang menarik adalah tentang hirarki pengaruh, mungkin kurang lebih ada lima level yang mempengaruhi inti teks media yaitu pertama individual level yang berbicara kompetensi etika dan profesi, bagaimana pekerja media menumbuh kembangkan nilai ini. Kedua media rointines level kata kuncinya adalah waktu penerbitan baik majalah ataupun koran yang sudah ditetapkan. Ketiga organization level
yakni pengaruh besar yang memiliki media tertentu baik tokoh masyarakat, politisi, atupun pengusaha. Keempat extra media level diluar media berupa organisasi atau kelompok yang sangat berpengaruh. Terakhir ideology level yaitu satu ideologi yang dianutnya dari beberapa ideologi, baik kapitalis, liberalis, islamis dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: