Valentine’s Day Seremoni Kultural yang telah Mengakar

Oleh: Denhas Mubarok T.A

(Ketua Umum ParWI Parliament watch Indonesia Kab.Purwakarta)

Hegemoni budaya telah menghilangkan jati diri para remaja, beberapa peradaban dibenturkan melalui arus informasi global. Pengaruh budaya barat atau dikenal dengan westernisasi merasuk pada sendi-sendi kearipan lokal bahkan mendobrak pintu agama. Berdalih kasih sayang, dan perasaan saling mencintai sesama manusia dapat menebar kebenaran yang universal. Tepatnya bulan ini semarak seremoni dalam mengaktualisasikan kasih sayang yang diwadahi budaya hedon telah ramai di perbincangkan bahkan dinantikan oleh kalangan remaja.

Tak heran dibeberapa kota besar banyak tempat hiburan telah dipersiapkan demi menyambut Valentine’s Day, bahkan beberapa icon bermunculan dimedia cetak atau televisi dengan bentuk yang pariatif. ada berupa kado, coklat, bunga dan lain-lain. Itu semua merupakan simbol yang tidak memiliki subtansi apapun dari ritual tersebut.

Bentuk perayaan yang bertepatan pada tanggal 14 Februari ini telah lama menjadi “seremoni cultural” yang menjadi kebiasaan melayu termasuk Indonesia. Beberapa kontroversi tidak menjadikan alasan untuk melaksanakan ritual ini. kritik dan opini yang dibangun oleh beberapa Ulama hanya dipandang sebagai seruan saja. Pagar-pagar syari’at dicopoti demi kemaslahatan kebiasaan yang telah mengakar. Nampaknya jelas perlu ada reinterpretasi terkait Valentine’s Day. Banyak kalangan remaja yang tidak tahu asal mulanya momen ini, sehingga sepatutnya kita paparkan historis dari beberapa referensi terkait Valentine’s Day.

Pada mulanya St.Valentine adalah seorang pendeta yang bijak, namun akibat pertentangannya dengan penguasa Romawi pada waktu itu Claudius II (268-270M) yang melarang adanya pernikahan dikalangan muda. Akibatnya pada tanggal 14 Februari 270M Valentine di hukum mati. Dan akibat perjuangannya dan kegigihan dalam membela pendapatnya, maka dia dianugrahi sebagai martyr atau syuhada (dalam Islam) dengan symbol ketabahan, dan berani dalam menjalani cobaan hidup. maka para pengikutnya memperingati hari kematian yang sekaligus dijadikan sebagai upacara keagamaan.

Namun upacara keagamaan itu berangsur-angsur hilang mulai abad 16M, bahkan dikaitkan dengan pesta perayaan jamuan kasih sayang, bangsa Romawi kuno yang disebut “supercalis” tepatnya pada tanggal 15 Februari yang akhirnya orang-orang Romawi itu masuk pada ajaran Nasrani (kristian). Kemudian, penerimaan upacara kematian St.Valentine secara kebetulan kepercayaan orang Eropa pada tanggal 14 Februari. bertepatan dengan waktu “kasih sayang” yang mulai bersemi bagai burung jantan dan betina.

Cerita ini lebih dari 1700 Tahun yang lalu. apakah tidak ada interpretasi-interpretasi lain yang sangat jauh dari objektifitas Valentine semakin kabur bahkan ngawur?. Potensi nalar kita seolah terkotori nafsu saat kesadaran palsu mengilustrasikan kasih sayang kita terhadap lawan jenis. Bayangkan, beberapa anak muda berkencan dengan dalih menabur cinta diantara mereka. Kalangan muda-mudi kehilangan kesuciannya demi jalinan kasih yang diyakininya. Padahal, polarisasi berhubungan dalam Agama apapun termasuk Islam sangat terjaga. Artinya, ada batasan-batasan tertentu dalam menjalin hubungan antara kaum Adam dan Hawa. Agama apapun sangat mencela hubungan bebas.

Kita tahu bahwa akal terdiri dari dua unsure. Yaitu, rasio dan hati. maka tak heran pada moment Valentin’s Day, banyak para remaja yang terjerembab pada kubangan hati yang memanfaatkan potensi nafsu birahi. Terkadang melihat fenomena itu semakin bias dan tumpang tindih antara kultur dan agama, seakan agamapun terproteksi sesuai lajunya perkembangan zaman.

Bukan berarti Agama khususnya Islam tidak memperbolehkan menabur kasih sayang, sebetulnya dalam urusan hati manusiapun dianugrahi sifat cenderung pada kebaikan (hanif). Dan sifat hanif ini terlihat begitu kasat mata dalam hablumminannas (hubungan antara sesama manusia). kita tahu bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik pada sesama, tidak memandang apakah dia muslim atau nonmuslim. Artinya, ini tidak lain bahwa manusia itu dianugrahi sifat hanif dan saling menyayangi sesama manusia.

Kemudian dalam kata kunci menyayangi yang paling berperan adalah nafsu (keinginan), maka dengan nafsu itulah manusia dapat mengemban amanah dalam menjaga kesuciannya dari hal-hal yang negative. Bagaimana eksistensi nafsu baik (nafsu mutmainnah) dan nafsu keburukan (nafsu amarah) dalam diri manusia saling mendominasi, jika kerangka berfikir (frame of thinking) sebagian saudara  kita masih merayakan Valentin’s Day. maka nafsu mutmainnah- nya telah terdominasi oleh nafsu amarah.

Disadari atau tidak, upaya tradisi yang tidak sesuai tata nilai ajaran kita seakan menjadi tuntutan yang harus dilakukan. Padahal, ritualisasi ini tidak bisa ditolerir dan ini pembohongan publik yang paling besar. Atau bisa disebut juga dengan “taklid cultural” dikarenakan ketidaktahuan asalmuasal Valentine, maka generasi- kegenerasi menjadi budaya yang lumrah, padahal dasar hukum dari taklid itu dikecam. Taklid akan membawa pada kejumudan, jika sudah demikian maka susah dalam memcari cahaya kebenaran.

Walaupun berat keluar dari kungkungan ego dan menjauh dari bayangan kepalsuan, namun kita harus yakin bahwa dalam menggapai kemerdekaan dan menggapai kebebasan hidup telah diatur oleh aturan Ilahi, dan bukan aturan atau kepentingan bahkan kebiasaan makluk.

Moment yang membius ketidaksadaran ini dapat mengaburkan kita pada cinta yang hakiki. Yakni, dialah yang patut dicintai dan berhak untuk mencintai hambanya Tuhan semesta alam.  Seperti yang tertera dalam hadis Qudsi: “Kecintaanku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling berkorban karena Aku dan yang saling mengunjungi karena Aku.” (Riwayat Ahmad).

Untuk itu bukalah topeng-topeng kepalsuan, anak-anak negeri harus berani berseru pada pergaulan yang baik dan normative sesuai ajaran Tuhan. Semoga kebiasan ini dapat luntur dan hilang pada suatu zaman dimana semua nilai kebiasaan kembali berpijak pada nurani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: